Kecerdasan Yang Dikembangkan

n KECERDASAN BAHASA Adanya komunikasi dengan orangtua makin memperkaya kosakata anak.

n KECERDASAN INTERPERSONAL Ada interaksi antara orangtua dan anak. Permainan ini juga sangat menye nangkan sehingga timbul kenyaman an dan kesenangan tersendiri. Hal ini akan menstabilkan kondisi emosinya sehingga membuat emosi anak lebih terkontrol .

n KECERDASAN KINESTETIK-JASMANI Dalam hal ini yang distimulasi adalah motorik halus, yaitu pergelangan dan jari-jemari anak.

Bermain Potong dan Belah

Bagi anak usia dini, bermain adalah suatu proses belajar untuk merangsang kecerdasannya: melatih otot-otot, mengasah indra, mengeksplorasi dunia sekitar, menguasai bahasa, bernalar, bersosialisasi, dan mengenal diri sendiri. Banyak permainan mencerdaskan yang fun, yang bisa dilakukan bersama si kecil di rumah. Sempatkan paling tidak 10 menit sehari. No gadget, no TV!

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Anak batita sangat suka dengan aktivitas memotong-motong. Tak heran bila kita sering menemukan anak yang senang membelah-belah kue dengan tangannya, mematahkan krayon, atau mematahkan biskuit. PERALATAN Piring tahan pecah dan sendok plastik atau pisau mainan, selembar roti tawar atau sekeping biskuit.

CARA BERMAIN 1. Jika si kecil tampak tertarik memotong atau membelah sesuatu, sodorkan biskuit renyah atau roti dalam piring tahan pecah lengkap dengan sendok plastik/pisau mainan untuk memotong. 2. Biarkan anak beraktivitas entah memotong dengan sendok plastik/ pisau mainan atau mematahkannya dengan tangan. 3. Setelah terpotong, terangkan padanya bahwa tadinya biskuit hanya satu, tetapi setelah dipotong-potong jadi ada banyak bagiannya.

Bermain Itu Belajar

Anak prasekolah senang sekali bermain, karena memang itulah tugas utamanya sebagai anak. Lebih dari itu, semua hal di sekitarnya ia pelajari lewat bermain. Jadi, belajar tak melulu harus duduk manis, tetapi dengan bermain pun, anak bisa mengetahui dan mempelajari banyak hal lewat cara yang menyenangkan. Contoh, anak suka bermain mobilmobilan. Ia sibuk membuat antrean panjang dengan mobil-mobilnya. Kadang mobil-mobilnya berserakan di mana-mana.

Namun, anak belajar macam-macam dari mobil-mobil mainannya: mengelompokkan mobil sesuai warna, jenis, merek, mengenal arah depanbelakang-atas-bawah, membuat cerita, mengenali rambu lalu lintas, berkompetisi lewat balapan mobil mainan, mengenal konsep menang-kalah, bermain bersama dan bergantian dengan teman. Jadi, bermain adalah belajar dan segala sesuatu yang dipelajari dengan cara menyenangkan akan lebih melekat dalam ingatan anak hingga ia besar.

Kecerdasan Yang Dikembangkan

n KECERDASAN LOGIS-MATEMATIS Setelah memotong atau membelah, anak akan mendapatkan pengetahuan baru. “Wah, ternyata kalau biskuit ini dipotong potong jadinya kecil-kecil tapi lebih banyak.” Saat memotong atau membelah, anak dituntut untuk terus memerhatikan benda yang dipegangnya. Bagian-bagian mana yang akan dipotong atau dibelahnya. De ngan begitu fokus perhatiannya juga akan terstimulasi.

Sumber : pascal-edu.com

Manajer Antisipatif untuk Perubahan Teknologi

KEBIJAKAN yang keluar dari manajemen yang mengerti persoalan dibanding dari yang kurang mengerti memang sangat berbeda. Kebijakan terasa penuh keraguan jika keputusan keluar dari manajemen yang kurang paham masalah. Selain tidak fokus, kebijakan tidak konsisten dan sulit diterapkan untuk dasar kebijakan jangka panjang. Implementasi yang dipaksakan – akibat penuh warna politis – terjadi pada periode penguasa manajemen itu membuat manajemen periode berikut agak kesulitan, yang buntutnya setiap menteri baru membuat aturan baru. Setidaknya itulah gambaran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) saat ini, juga beberapa kementerian lain di pemerintahan Jokowi-JK, dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Memang terasa benar perbedaannya jika manajer yang mengelola adalah praktisi dengan pengalaman seabrek, dibanding manajer yang didudukkan oleh kuasa politis. Dari sepanjang sejarahnya, baik ketika masih menjadi bagian dari Departemen Perhubungan, atau ketika menjadi Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi lalu terakhir mandiri sebagai Kementerian Kominfo, baru kali ini gebrakan manajemennya terasa benar.

Manajer Antisipatif untuk Perubahan Teknologi

Apa yang selalu menjadi ganjalan, atau pelaksanaan kebijakan yang tidak terlalu jelas karena sarat beban politis, tidak lagi tampak. Keberanian menteri dalam memutuskan kebijakan dengan dasar kepentingan industri dalam melayani masyarakat sangat menonjol, karena menterinya adalah praktisi yang paham benar industri telekomunikasi. Separuh usia Menkominfo Rudiantara – namanya memang hanya sepotong itu sehingga agak menyulitkan ketika ia harus mengisi formulir permohonan visa untuk negara-negara yang mewajibkan mencantumkan nama keluarga –malang melintang di industri telekomunikasi. Sarjana statistik ini berkarier sebagai karyawan PT Indosat, lalu menjadi direktur niaga di PT Telkomsel, lalu direktur di PT Excelcomindo Pratama (cikal bakal PT XL Axiata), lalu menjadi komisaris PT Telkom dan PT Indosat setelah diselingi menjadi wakil direktur di dua BUMN, PT Semen Gresik dan PT PLN, membuatnya matang. Kelebihannya hanya (orang bilang) sepele dibanding semua pendahulunya. Ia tahu persis kebutuhan industri, baik dilihat dari sisi operator, dari sisi pemerintah maupun dari sisi masyarakat. Karenanya kebijakannya – walau ini masih harus diuji oleh waktu apakah akan konsisten – boleh dikata melegakan semua pihak.

Periode-periode lalu menteri selalu penuh pertimbangan jika akan mengadopsi teknologi baru, padahal di telekomunikasi teknologi berkembang cepat, siklusnya bukan 10 tahun atau lima tahun, dalam dua tiga tahun teknologinya sudah ketinggalan zaman. Peralatan teknologi meski masih bagus, acapkali harus diganti dengan yang baru karena ada rilis teknologi baru. Walaupun “icip-icip” Periode lalu menteri yang berkaitan dengan telekomunikasi selalu penuh keraguan dalam memutuskan, sebab mereka kekurangan basis pengetahuan yang akan melandasi kebijakannya. Itu sebabnya Indonesia termasuk lambat dalam menerapkan layanan GSM generasi ketiga (3G) dibanding operator telekomunikasi di banyak negara. Pemerintah sat itu juga raguragu memutuskan, ketika diminta segera menetapkan kebijakan pengadopsian teknologi generasi keempat (4G) dengan alasan kepentingan operator harus dijaga sebab investasi mereka untuk layanan 3G saja belum impas.

Padahal dorongan untuk implementasi 4G justru datang dari kalangan operator GSM sendiri. Sangat terasa, kebijakan Rudiantara sangat pas dengan kebutuhan industri yang dituntut untuk memberi pengalaman pelanggan pada inovasi baru, utamanya dalam transmisi data karena masyarakat makin menuntut kecepatan unduh yang lebih tinggi. Masyarakat yang makin membutuhkan kecepatan informasi sudah diimbangi pangsa impor ponsel pintar yang makin mendominasi. Hingga pertengahan tahun 2014, boro-boro pemerintah memberi gambaran kapan 4G akan hadir. Pemilik kebijakan malah disibukkan dengan wacana menggelar tender atau beauty contest untuk dua kanal 3G yang tersisa, kanal 11 dan kanal 12 bekas Axis yang dikembalikan oleh XL Axiata pasca akuisisi Axis, yang tidak terlaksana juga. Jauh sebelum 100 hari pertama pemerintahan JokowiJK, Menkominfo Rudiantara sudah mengizinkan operator GSM memberi layanan 4G LTE (long term evolution) pada spektrum 900 MHz, sebelum tutup tahun lalu. Walaupun, boleh dikata kebijakan ini sekadar “icip-icip” sebab lebar pita yang tersedia di spektrum ini hanya 5 MHz, yang artinya kecepatan tertinggi yang bisa dinikmati pelanggan hanya sekitar 36 mbps (mega byte per detik).

Itu pun cukup merepotkan tiga operator pemilik frekuensi 900 MHz; PT Indosat (10 MHz), PT Telkomsel (7,5 MHz), dan PT XL Axiata (7,5 MHz), karena frekuensi ini dipenuhi pelanggan lama yang masih berkutat di layanan generasi kedua (2G). Pelanggan baru akan benar-benar menikmati layanan 4G LTE pertengahan tahun ini, nanti ketika Rudiantara mengeluarkan izin 4G LTE di rentang 1800 MHz, yang Februari ini akan ditata kembali (rearrangement/refarming). Kebijakan ini menimbulkan gairah di semua pihak, baik operator maupun pelanggan, sebab ada janji teknologi yang akan memungkinan pelanggan mendapat kecepatan unduh sampai 300 mbps. Kegairahan operator juga muncul ketika Rudiantara menyatakan spektrum 2,1 GHz yang kini untuk layanan 3G akan menjadi teknologi terbuka, sehingga operator dapat menggunakannya untuk layanan 4G LTE setelah dilakukan penataan ulang. Selama ini semua operator GSM memiliki kapasitas berlebih di frekuensi 3G ini, yang diharapkan akan “dilahap” masyarakat jika digunakan untuk layanan 4G LTE. Padahal pemerintah lama mewacanakan 4G akan memanfaatkan rentang frekuensi 2,3 GHz dan 2,6 GHz, dan tidak sebelum 2016. Juga direncanakan dua kanal sisa di rentang 2,1 GHz dilelang tahun 2015 ini, tanpa menyebut kemungkinan digunakan untuk 4G.

Jatuh Cinta pada Barang Olahan dari Situs Judi yang Lama

Jatuh Cinta pada Barang Olahan dari Situs Judi yang Lama Ngapain pakai barang baru, kalo bisa pakai barang lama,” ucap Ira (48), pemilik rumah. Ya, di mata Ira, barang-barang lama dan bekas pakai ini memiliki nilai seni yang lebih tinggi dibandingkan dengan barang baru. Bukan karena ia tak mampu membeli barang baru, tetapi Ira memang jatuh hati dengan barang lama. Ia juga tidak merasa dirinya hina dengan membangun rumah dari material dan barang lama. Bahkan, ia bangga karena sedikit banyak telah melestarikan barang-barang yang syarat akan nilai budaya Bangsa Indonesia karena barang-barang dan material yang ia kumpulkan tak terlepas dari sejarah kehidupan masyarakat Indonesia dulu. Selain karena alasan hobi mengoleksi barang lama, melestarikan barang-barang yang syarat akan nilai budaya memang jadi tujuan yang ingin ia capai. Ira tak ingin barang-barang ini jatuh ke tangan orang asing. Memang, sekarang ini banyak sekali orang asing yang memburu barangbarang lama ini.

Jatuh Cinta pada Barang Olahan dari Situs Judi yang Lama

Bahkan, Ira pernah mengalami sendiri harus berebut barang yang sama dengan orang asing. Untung, ia berhasil mendapatkannya. “Ini kan aset budaya bangsa Indonesia. Orang asing aja jatuh cinta, masa kita enggak mau melestarikan aset yang kita miliki,” ungkap Ira. Tak Ternilai Harganya Kendala yang dihadapi Ira tak hanya datang dari orang asing. Waktu pencarian menjadi kendala terbesar yang harus ia taklukkan agar mendapat barang-barang yang sesuai dengan keinginannya. Ini dikarenakan semua elemen yang dibutuhkan untuk membangun rumah beserta interior pengisinya tidak didapat dari satu tempat. “Kalau untuk barang-barang interior, saya sudah mengumpulkan semenjak saya masih lajang. Tetapi, kalau untuk material membangun rumah, saya kumpulkan setelah saya menikah,” ucap Ira yang merasa beruntung karena sang suami, Teddy (48), sangat mendukung hobinya.

Tak hanya di Jakarta, Ira dan suami melakukan pencarian barang-barang untuk membangun rumah beserta isinya hingga ke luar kota. Berbekal informasi dari internet, teman-teman yang hobi mengoleksi barang antik, dan terjun langsung ke lapangan, Ira berhasil mencari barang-barang itu. Bahkan, ia mengaku sangat bahagia saat mendapat informasi ada orang yang ingin menjual rumah Joglo dan rumah Jineng. “Waktu saya dapat informasi itu saya langsung berangkat ke Jawa untuk melihat sendiri kondisi rumahnya. Setelah saya lihat, kondisinya masih sempurna. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan,” ucap ibu dari Naila (18), Naura (15), dan Nadhif (11) ini. Lebih dari Sekadar Suka Walau memakan waktu lama, semua penantian yang Ira peroleh terbayar. Kepuasan yang diperoleh Ira tak bisa dinilai harganya. Tetapi, Ira mengingatkan bahwa jika ingin memiliki rumah seperti ini, Anda harus benar-benar jatuh hati karena suka saja itu belum cukup.

Alasannya, tak hanya proses pencari barang yang lama, proses pembangunan rumahnya juga lebih lama dibanding dengan membangun rumah dari material baru. “Proses pembangunan rumah ini memakan waktu hampir 2 tahun,” ucap Ira. Padahal, waktu untuk membangun rumah dengan luasan seperti ini standarnya hanya 8 bulan. Tetapi, Ira menegaskan bahwa perjuangan yang ia lakukan sebanding dengan hasil yang diperoleh. Ia juga merasa sangat terbantu karena tukang-tukang yang ia temui sangat paham bagaimana membongkar rumah lama dan membangunnya kembali.

Kerusakan yang terjadi saat pembongkaran dan pemasangan sangat minim. “Saya surprise, para tukang yang membongkar dan memasang ini sangat mahir. Kayak Aladdin aja mereka, bisa mindahin bangunan dari Jawa Tengah ke Bandung tanpa cacat,” ucap Ira. Menyatu dengan Alam Tak hanya dari sisi satu per satu barang dan bangunannya saja yang membuat Ira puas. Ia juga puas dengan interior rumah ini. Walau semua barang didapat dari banyak tempat, tetapi saat disatukan semua saling melengkapi, baik interior maupun bangunannya. Ira juga mengaku senang dengan layout rumahnya ini, yang terdiri dari beberapa massa bangunan yang berbeda fungsi. Rumah etnik ini dibalut dengan keasrian taman yang indah dan terawat, menyatu dengan keasrian daerah Dago. Nyamannya!