Perlukah Bayi Merangkak

Mama mana yang tidak senang bila perkembangan bayinya terus mengalami kemajuan? Salah satu perkembangan yang kerap dinantikan adalah merangkak. Menurut ahli tumbuh kembang anak yang juga pengurus IDAI Jaya (Ikatan Dokter Anak Indonesia Jakarta Raya), dokter Rini Sekartini, merangkak merupakan salah satu perkembangan motorik kasar pada bayi.

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Proses merangkak sebagian besar dilampaui oleh bayi, tetapi ada sekitar 15% bayi tidak melewati fase merangkak dan ini merupakan hal yang normal. “Sebenarnya tidak mengapa bila bayi tidak melewati fase merangkak. Mama dan Papa tidak perlu stres atau dibebani rasa bersalah sehingga menjadi cemas. Lagi pula, dalam perangkat skrining perkembangan tidak terdapat item untuk menilai perkembangan merangkak.

Merangkak merupakan peralihan kemampuan bayi dari proses tengkurap dan berguling menuju kemampuan berdiri. Kurun waktu perkembangan merangkak terjadi pada usia sekitar 7-10 bulan. Untuk itu, orangtua harus memberikan kesempatan dan melakukan stimulasi,” papar Rini.

Baik Untuk Motorik Kasar

Rini tidak menampik bahwa aktivitas merangkak baik untuk perkembangan motorik kasar. “Pada saat merangkak terjadi koordinasi antara tungkai kaki dan lengan untuk bergerak ke seluruh arah. Gerakan sinkron kiri dan kanan ini secara tidak langsung dapat merangsang kedua belahan otak kiri dan kanan. Rangsangan yang seimbang ini akan membantu perkembangan kedua belahan otak untuk mengoptimalkan fungsi nya,” jelas Rini. Tapi, Rini mengulangi penegasannya bahwa tidak semua bayi yang sudah dapat duduk, lalu merangkak dan terus berdiri.

Bisa saja salah satu fasenya mendahului yang lain. Ada bayi yang setelah duduk langsung dapat berdiri tanpa merangkak. Jadi, Mama dan Papa tak perlu khawatir bila bayinya tidak melewati fase merangkak. Lebih lanjut Rini mengatakan, “Pada bayi yang melewati fase merangkak ataupun yang tidak merangkak dalam bentuk lain seperti merayap, tidak berarti perkembanganya tidak normal, demikian pula perkembangan kemampuan otaknya. Koordinasi kiri dan kanan dapat pula dilakukan de ngan proses berjalan de ngan mengayunkan tangannya. Hal ini juga akan membantu merangsang kedua belahan kiri dan kanan otaknya. Jadi orangtua tidak harus sangat khawatir bila bayinya tidak merangkak.”

Kecerdasan Yang Dikembangkan

n KECERDASAN BAHASA Adanya komunikasi dengan orangtua makin memperkaya kosakata anak.

n KECERDASAN INTERPERSONAL Ada interaksi antara orangtua dan anak. Permainan ini juga sangat menye nangkan sehingga timbul kenyaman an dan kesenangan tersendiri. Hal ini akan menstabilkan kondisi emosinya sehingga membuat emosi anak lebih terkontrol .

n KECERDASAN KINESTETIK-JASMANI Dalam hal ini yang distimulasi adalah motorik halus, yaitu pergelangan dan jari-jemari anak.

Bermain Potong dan Belah

Bagi anak usia dini, bermain adalah suatu proses belajar untuk merangsang kecerdasannya: melatih otot-otot, mengasah indra, mengeksplorasi dunia sekitar, menguasai bahasa, bernalar, bersosialisasi, dan mengenal diri sendiri. Banyak permainan mencerdaskan yang fun, yang bisa dilakukan bersama si kecil di rumah. Sempatkan paling tidak 10 menit sehari. No gadget, no TV!

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Anak batita sangat suka dengan aktivitas memotong-motong. Tak heran bila kita sering menemukan anak yang senang membelah-belah kue dengan tangannya, mematahkan krayon, atau mematahkan biskuit. PERALATAN Piring tahan pecah dan sendok plastik atau pisau mainan, selembar roti tawar atau sekeping biskuit.

CARA BERMAIN 1. Jika si kecil tampak tertarik memotong atau membelah sesuatu, sodorkan biskuit renyah atau roti dalam piring tahan pecah lengkap dengan sendok plastik/pisau mainan untuk memotong. 2. Biarkan anak beraktivitas entah memotong dengan sendok plastik/ pisau mainan atau mematahkannya dengan tangan. 3. Setelah terpotong, terangkan padanya bahwa tadinya biskuit hanya satu, tetapi setelah dipotong-potong jadi ada banyak bagiannya.

Bermain Itu Belajar

Anak prasekolah senang sekali bermain, karena memang itulah tugas utamanya sebagai anak. Lebih dari itu, semua hal di sekitarnya ia pelajari lewat bermain. Jadi, belajar tak melulu harus duduk manis, tetapi dengan bermain pun, anak bisa mengetahui dan mempelajari banyak hal lewat cara yang menyenangkan. Contoh, anak suka bermain mobilmobilan. Ia sibuk membuat antrean panjang dengan mobil-mobilnya. Kadang mobil-mobilnya berserakan di mana-mana.

Namun, anak belajar macam-macam dari mobil-mobil mainannya: mengelompokkan mobil sesuai warna, jenis, merek, mengenal arah depanbelakang-atas-bawah, membuat cerita, mengenali rambu lalu lintas, berkompetisi lewat balapan mobil mainan, mengenal konsep menang-kalah, bermain bersama dan bergantian dengan teman. Jadi, bermain adalah belajar dan segala sesuatu yang dipelajari dengan cara menyenangkan akan lebih melekat dalam ingatan anak hingga ia besar.

Kecerdasan Yang Dikembangkan

n KECERDASAN LOGIS-MATEMATIS Setelah memotong atau membelah, anak akan mendapatkan pengetahuan baru. “Wah, ternyata kalau biskuit ini dipotong potong jadinya kecil-kecil tapi lebih banyak.” Saat memotong atau membelah, anak dituntut untuk terus memerhatikan benda yang dipegangnya. Bagian-bagian mana yang akan dipotong atau dibelahnya. De ngan begitu fokus perhatiannya juga akan terstimulasi.

Sumber : pascal-edu.com