RUMAH KORUPSI BERNAMA BALONGAN

RUMAH KORUPSI BERNAMA BALONGAN

PEMERINTAH Joko Widodo berencana membangun Kilang Tuban di Jawa Timur. Tender megaproyek tersebut mulai dipersiapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Soal kilang minyak, Tempo edisi 10 Oktober 1999 menulis laporan utama dengan judul ”Rumah Korupsi Bernama Balongan”. Kilang ini berlokasi di Indramayu, Jawa Barat. Pada 21 Mei 1999, Jaksa Agung Andi M. Ghalib melapor kepada Presiden B.J. Habibie mengenai kasus korupsi pada proyek kilang minyak khusus ekspor alias Export Oriented (Exor) Balongan.

Laporan itu menunjukkan bahwa kilang minyak raksasa tersebut dibuat dengan menggelembungkan biaya US$ 113 juta, sehingga merugikan keuangan negara ratusan miliar rupiah. Surat Andi Ghalib menyebutkan Faisal Abda’oe, mantan Direktur Utama Pertamina, serta Tabrani Ismail, mantan Direktur Pengolahan Pertamina dan Ketua Tim Negosiasi Proyek Balongan, dianggap lalai. Ghalib juga menyebut nama penting seperti A.R. Ramly, Direktur Utama Pertamina sebelum Faisal Abda’oe; Subroto, Menteri Pertambangan dan Energi ketika proyek Balongan diusulkan; serta Ginandjar Kartasasmita, Menteri Pertambangan dan Energi ketika Balongan mulai disetujui dan dibangun. Megakilang Balongan dengan kapasitas 125 ribu barel per hari itu dibangun selama lima tahun (1990-1995), molor satu tahun dari jadwal semula. Biaya yang dihabiskannya mencapai US$ 2,45 miliar.

Padahal, menurut anggota Dewan Perwakilan Rakyat, studi banding ke tujuh negara lain menunjukkan bahwa kilang dengan kapasitas 150 ribu barel per hari cukup dibangun dengan ongkos US$ 1,6 miliar. Kesimpulannya, Balongan kelewat mahal US$ 800 juta, bukan US$ 113 juta seperti disebut Ghalib. Bukan cuma kelewat mahal, Balongan juga dibangun dengan sembrono. Beberapa hari sebelum diresmikan, akhir 1994, sejumlah mesin Balongan ngadat, tak bisa dipakai. Menurut sumber Tempo, mogoknya Balongan ketika itu disebabkan oleh perubahan kapasitas. Semula Balongan didesain untuk mengolah 100 ribu barel campuran minyak mentah dari Duri (50 ribu) dan Minas (50 ribu). Belakangan, untuk mengompensasi biaya pembangunannya yang sudah kelewat mahal, kapasitas Balongan digenjot.

Balongan dipaksa mengolah 125 ribu barel dengan campuran minyak Duri 100 ribu dan Minas 25 ribu barel. Akibatnya, ”Pipa katalis Balongan sering jebol.” Dengan kondisi seperti itu, kinerja usaha kilang Balongan amburadul. Jangankan untung, Balongan justru terus menggerogoti modal Pertamina. Pada tahun pertama operasi, 1995, Balongan sudah mencatat rugi Rp 500 miliar.

Tahun berikutnya rugi lagi sekitar Rp 300 miliar. Pada 1995, Menteri Pertambangan dan Energi Sudjana meminta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) melakukan audit lengkap, tapi mentok. BPKP tak mampu menembus Pertamina, yang dibentengi dengan undang-undang khusus. Sudjana melapor kepada Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Radius Prawiro, tapi juga tak bersambut. Padahal ketika itu Sudjana sudah mendapatkan pengakuan dari Tabrani Ismail bahwa Balongan kemahalan US$ 500- 650 juta. Akhirnya Sudjana melapor ke Presiden.

Apa kata Soeharto? Orang nomor satu itu tenang-tenang saja. Pak Harto kabarnya ingin megaskandal ini diselesaikan diamdiam. Ia cuma meminta para pejabat yang sudah menikmati rezeki dari Balongan segera mengembalikannya. Sementara itu, untuk menambal kerugian, Presiden meminta Pertamina menyetor Rp 1,2 triliun. Beres. Setelah Soeharto lengser, pemerintah Habibie melanjutkan pengusutan melalui Jaksa Agung Andi Ghalib. Namun, hingga empat bulan berselang dari laporan Ghalib ke Presiden, belum ada gerakan apa pun. Teten Masduki dari Indonesia Corruption Watch, kini Kepala Staf Kepresiden, merasa perlu bertanya kepada Habibie melalui surat, ”Apakah kebijakan Bapak Presiden untuk menghentikan penyelidikan kasus korupsi di Balongan?

Website : kota-bunga.net

BIAR NYAMUK MENJAUH

BIAR NYAMUK MENJAUH

DAUN kemangi ternyata bukan sekadar lalapan. Felianty Teresa, Sherine, dan Devina Hartono, tiga pelajar Sekolah Menengah Atas Santo Kristoforus, Jakarta Barat, berhasil memanfaatkannya sebagai bahan pengusir nyamuk. Memiliki nama Latin Ocinum bassilum ferina citratum, kemangi mengandung geraniol dan linalool, yang aromanya harum menyengat. Geraniol tidak larut dalam air, tapi dapat membaur dalam bahan pelarut tertentu. ”Aroma zat geraniol ini yang tidak disukai nyamuk,” kata Felianty, yang ditemui di sekolahnya, Selasa pekan lalu.

Felianty yang mula-mula mendapat gagasan membuat cairan pengusir nyamuk. Siswa kelas XI jurusan ilmu pengetahuan alam ini mengaku sering digigit nyamuk di rumah. Informasi tentang geraniol dan kemangi dia temukan dari Internet. Pada September 2015, ia memulai riset untuk mengekstrak daun kemangi dan mengajak serta dua rekannya di sekolah, Sherine dan Devina. Di bawah bimbingan guru biologi Ester Sitorus, ketiganya bekerja di laboratorium sekolah. Ekstrak daun kemangi mereka ujicobakan pada nyamuk yang dikembangbiakkan di dalam laboratorium. ”Kami sempat berkali-kali gagal,” kata Felianty. Riset mereka berlangsung selama tujuh bulan.

Akhir tahun lalu mereka sempat berhenti karena harus mengerjakan tugas sekolah yang lain. Baru pada awal tahun ini mereka melanjutkan riset yang tertunda, sampai berhasil meramu formula cairan daun kemangi yang dapat mengincit nyamuk. Sherine mengatakan larutan antinyamuk buatan mereka belum sempurna betul. Sampai saat ini temuan mereka hanya sanggup bertahan lima hari pada suhu 18- 26 derajat Celsius, setelah itu membusuk. Larutan bisa awet sampai seminggu kalau disimpan di dalam lemari pendingin.

Kelemahan lain, larutan kemangi hanya sanggup mengusir nyamuk selama sekitar 30 menit dan tidak membunuhnya. Tapi keunggulannya, menurut Sherine, temuan mereka aman karena terbuat dari bahan alami. Larutan antinyamuk yang banyak dijual saat ini bisa merusak kulit dan mencemari udara sekitarnya karena mengandung bahan kimia dietyltoluamide. Ada dua cara menggunakan larutan kemangi untuk mengenyahkan nyamuk: menyemprotkannya ke udara atau mengoleskannya ke kulit.

Agar bisa dioleskan, larutan lebih dulu dicampur dengan bedak. Hasil riset ini mereka ikutkan dalam lomba karya ilmiah di Kolese Kanisius pada Maret lalu dan meraih gelar juara ketiga. Prestasi mereka semakin moncreng dalam International Engineering Invention and Innovation Exhibition (i-ENVEX) ke-7 di Malaysia, 8-10 April lalu. Dalam ajang inovasi internasional yang diikuti 320 peserta dari perguruan tinggi serta sekolah berbagai negara itu, Felianty dan tim menjadi juara kedua. Banyak yang kagum dan menganjurkan mereka memproduksi cairan daun kemangi secara massal. ”Tapi kami masih pikir-pikir dulu,” kata Felianty.