Categories
Info

Sukses Jualan Cokelat Di Kota Gudeg dengan Bantuan Jasa SEO Semarang

Sukses Jualan Cokelat Di Kota Gudeg dengan Bantuan Jasa SEO Semarang. Datang tanpa perencanaan ke Indonesia tahun 2001, Thiery Detournay pengelana asal Belgia malah berjualan cokelat di seputaran kampus UGM dan Gereja Kotabaru, Yogyakarta. APALAH nama, kalau hal itu Anda tanyakan kepada pemilik merek cokelat Monggo di Yogyakarta, jawabannya bisa serius. Bagi pemilik artinya sebuah usaha ini, Thierry Detournay (48) dan Edward Riando Picasauw (37), pilihan nama Monggo bukan diambil asal-asalan.

Merasa kurang pas dengan nama yang mereka pilih sebelumnya. Kedua orang tersebut bersama dengan staf kreatifnya, Burhan berembuk mencari nama untuk produk cokelatnya. Syaratnya, nama tersebut mesti mudah didengar, mudah diingat, unik, dan khas Yogya. Ide berkelebatan, puluhan kata dicetuskan. Sampai kemudian terlontar satu kata bahasa Jawa monggo.

Ya … monggo. Yogya banget! Ketiga orang ini merasa plong, kata tersebut seperti mewakili suasana batin, tempat produk mereka dihasilkan. Dalam bahasa jawa monggo berarti menyilakan dengan penuh rasa hormat bagi tamu. Sepadan dengan kata please atau welcoming dalam bahasa Inggris. Bahkan cara menyilakanpun sambil menunjuk menggunakan ibu jari dengan keempat jari lain ditekuk ke dalam.

MEREK UNIK

Dari segi ilmu pemasaran pemilihan nama ini juga terbilang unik. Selama ini pemberian nama produk cokelat merujuk pada kata berbau asing. Sementara monggo, malah berbeda seratus delapan puluh derajat, yang tak ada konotasinya dengan cokelat. Tak hanya berhenti di situ, jika ditelisik, lokasi gerai dan pabrik juga bukan tempat yang bisa dianggap premium untuk berjualan cokelat.

Mereka malah memilih kawasan yang agak terpencil Kotagede. Sebuah tempat yang pernah menjadi ibukota Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Berbagai sisa peninggalan dalam bentuk istana, masjid kerajaan, makam raja, dan benteng masih bisa dilihat hingga kini. Lokasi Cokelat Monggo juga berada tak jauh dari pasar.

Di setiap hari pasaran, yakni Legi (hari pasaran dalam kalender Jawa) suasana pasar lebih riuh, sehingga orang yang mau menyambangi harus berputar atau memarkir kendaraannya agak jauh, berjalan kaki ke lokasi melewati pasar. Bila Anda datang ke gerai, Anda bakal disambut dengan ramah dan ditunjukkan tempat pembuatan cokelat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *